Welcome!

Welcome to my blog. Feel free to read posts in this blog. Critics and Suggestions are useful for me. Thank you :)

Minggu, 24 Mei 2015

Callback Love

1 bulan udah ga ngeblog. Bulan ini adalah bulan yang membuat gue cukup sibuk. Yap, semester genap kuliah gue udah mau selesai, dan gue banyak kerjaan, sekaligus minggu ini gue ujian praktik untuk kelulusan. Semoga gue sukses, ya :)

Di tempat kuliah gue, kerjaannya banyak banget, dan gak bisa dikerjain di rumah. Ya iyalah, yakali gue kudu beli mesin bubut pribadi buat ngebubut kerjaan gue di rumah, bisa-bisa didepak gue.

Yap, gue sebagai anak teknik mesin, yang konon katanya susah dapet pacar. Bener sih, di jurusan gue gak ada ceweknya sama sekali. Isinya batangan semua. Untung gue gak beralih prioritas untuk mencari masa depan. Jadi? Ya gue sampe sekarang belom pacaran :)

Dan itu menjadi permasalahan gue pada bulan ini.

Semua berawal ketika internet provider yang paling gue benci mati. Gue mau gak mau harus menonton stock anime yang udah gue download sebelum-sebelumnya. Alhasil gue menonton anime yang berjudul Eureka 7. Bercerita tentang apa? Gue gak mau ceritain, mending kalian nonton sendiri aja. Enak aja masa blog gue jadi tempat sinopsis film.

Pada pertengahan episode, entah kenapa otak gue tiba-tiba berproses...

Eureka 7, adalah anime rekomendasi gue untuk seseorang yang dulu gue suka, alias gebetan gue pada masa lalu. Tokoh karakternya, mirip gebetan gue (gebetan yang sebelum gebetan ini)(gebetan banyak amat le, jadian kagak).

Nah ini masalahnya.

Gue jadi flashback saat gue dulu sedang ngegebet dia. Entah kenapa tiba-tiba keinget lagi, seakan-akan kayak elu lagi nyari benda yang dibutuhin gak ketemu-ketemu, tapi pas lagi gak butuh tiba-tiba benda itu nongol dengan sendirinya.

Itulah yang gue alami saat ini. Disaat gue sedang lagi di minggu ujian kenaikan tingkat, tiba-tiba gue mendadak galau.

Sekarangpun gue keinget pertama kali gue ketemuan sama dia, karena kecelakaan kecil yang gue buat sendiri, terus gue minta tolong dia, dan dia mau nolongin gue. Sejak itulah gue mulai berkenalan dengannya, dan mencoba lebih mengenali dia, yang pada saat itu katanya orangnya anti-social.

Kemudian berbulan-bulan gue ngobrol sama dia, lama-lama muncul benih mungil yang akan tumbuh rindang bernama : kebersamaan. Loh kok kebersamaan, kenapa bukan cinta, atau sayang, atau  kangen, atau rindu, atau tetek bengek lainnya yang apalah gue ga tau namanya? Karena gue yakin, gue gak bisa mendapatkan dia.

Pesimis amat Le? Memang begitu keadaannya. Dari segala sisi gue dan dia memang bertolak belakang. Dia pintar, gue kurang pintar. Dia putih, gue coklat.  Dia bookworm, gue gamer. Dia kaya raya, gue kaya gembel. Dia tinggi, gue........... lebih tinggi dari dia sih, tapi ideal lah kalau gue sama dia jalan bareng. Memang benar, harusnya pasangan saling melengkapi, yang berarti masing-masing mengisi kekurangan pasangannya dengan kelebihan dirinya. Gue bisa aja ngebantuin dia dalam hal komputer karena dia gaptek, dan dia bisa ngajarin gue tentang pengetahuan yang ada di sekolah.

Kami melakukannya, tapi tidak menjadi pasangan, karena kami yakin, kami masih membangun pondasi masa depan, untuk pasangan nanti, agar saat kedepannya nanti kelak gue dan pasangan gue sudah berada di posisi yang cukup mapan, sehingga bisa menlanjutkan sisa hidup di dalam keharmonisan.

Jadi gue dan dia memang gak memutuskan untuk pacaran, karena kami masih konsen untuk pendidikan kami dulu (bahasa kerennya : pondasi masa depan).

.... Bilang aja Le lu udah yakin ditolak di awal makanya lu mengurungkan niat buat jadian sama dia. Mungkin itu sisi lainnya, tapi gue dan dia sepakat untuk memang tidak mencari pasangan dulu, baik gue mencari cewek lain, dan dia (mungkin) tidak mencari cowok lain.

Karena kegalauan yang absurd itu, gue keinget pas pertama kali gue menggambar manga dengannya. Dan di rumah gue yang sekarang, setelah lebih dari satu tahun tidak menggambar manga, karena anime Eureka 7 itu, akhirnya gue mulai berlatih lagi menggambar manga, mulai dari mata.

Latihan gambar mata, tetep aja jelek. Maklum 1 tahun enggak corat coret lagi.
Itu mata siapa? Ceritanya gue mau latihan mata seperti Eureka pada anime Eureka 7. Memang jelek gambar gue. Tapi tiap goresan pena pada gambar tersebut, banyak ingatan yang muncul saat gue menggambar.
Mata, adalah gambar pertama gue dengannya. Pertama kalinya gue latihan menggambar manga dengan dia, dan gambar pertama adalah mata.  Maka dari itu, setiap kali gue menggambar mata pada suatu tokoh, yang gue keinget adalah saat gue dan dia bersama-sama latihan menggambar, sekaligus mengingat saat gue pertamakali bertatap mata dengan dia, pandangan matanya yang membuat gue berasa "wah", dan membuat bekas yang cukup lama tergambar di pikiran gue.

Gue teringat saat pertama kali dia ketawa, saat itu gue bikin lelucon tentang temannya, dia ketawa, sampe jatuh (iya, dia jatuh dari kursi, untung lantainya gapapa). Entah kenapa, tawa dia itu beda sendiri dari manusia pada umumnya. Tawa dia itu seperti.... ya aneh lah, susah dideskripsikan. Bukannya susah sih, tapi susah banget (?).

Selain tertawa, dia juga pernah sedih. Pernah dia sedih sampe nangis, kemudian dia mukul-mukulin tangannya ke meja kayu. Pertama, kedua, ketiga, dia pukul terus sambil nangis. Gue gak tahan. Saat mau mukul keempat, gue menghadang mejanya, sehingga tangan gue yang kepukul. Mejanya gapapa, tangan gue biru memar. Kemudian gue dikatain bego. Lalu gue ketawa, dan dia mulai ketawa dan mulai menghapus kesedihannya karena tindakan heroik gue terhadap meja yang dia sakiti, karena gue punya perasaan peri-kemejaan.
Pernah juga gue (kebetulan) ngerjain tugas bareng dengan dia. Walaupun tugas kami beda pelajaran, entah kenapa ngerjain di satu meja, dan selesai bersama-sama. Memang berasa aneh saat mengerjakan, tetapi diakhir kita canggung sendiri dan tertawa bingung : gimana ceritanya pelajaran kimia dan bahasa sunda bisa dikerjakan satu meja dan selesai bersamaan?

Gue juga pernah ngajak dia nonton konser bareng, merasakan atmosfir yang sama. Gue keinget dia pertamakali kagum melihat orang bernyanyi di atas panggung, dan kebetulan gue di sebelahnya. Kami serasa menonton konser berdua. Seru, sekaligus menyenangkan. Paket double, melihat orang yang dikagumi di atas panggung, sekaligus melihat dia di sebelah gue bahagia.

Tiap goresan pena pada gambar mata itu, banyak memori yang tergambar di pikiran gue. Saat-saat gue masih di rumah gue yang lama, masih cukup dekat dengan rumah dia, masih bisa melihat wajah dia di pagi hari, dan saat pulang, walaupun jalan pulang kami hanya satu arah pada setengah perjalanan (ada pas perempatan, gue belok kiri, dia belok kanan), tetapi sampai rumah seakan-akan kami seperti satu arah kembali.

Mungkin ini yang dinamakan rindu yang dipaksa dipendam. Mencoba untuk dipendam, ditahan, selama mungkin, tapi karena suatu hal yang mengingatkan, kerinduan itu meledak, seperti saat ke WC, buang air besar, ditahan terus, pas dilepas, jebret, blepetan semua. Ternyata orangnya lagi diare. Jorok gila.

Namanya juga memori, walaupun memang sudah dipaksa untuk dilupakan, dia akan muncul lagi tiba-tiba, seperti bintang jatuh, muncul tiba-tiba, dan hilang tiba-tiba. Yap, mungkin nanti memori antara gue dengannya akan hilang tiba-tiba, walaupun nanti akan muncul kembali tiba-tiba, entah kapan.


Alhasil minggu yang harusnya gue pikirin buat konsentrasi ke ujian kenaikan tingkat gue, mau gak mau harus bercampur aduk sama kegalauan gue akan masa lalu. Semoga gue tetap survive, dan nilai ujian gue bisa melebihi nilai minimal, dan membuat gue dan orang tua gue puas, sehingga pondasi masa depan gue kuat, dan masa depan gue bisa memiliki cahaya kecil, yang nantinya akan menjadi terang benderang, dan akan menjadi seterang matahari saat gue bertemu dengannya.


Salam Pendam

@leonardixb

Minggu, 29 Maret 2015

Salah Tingkah Bersama Customer Care

Tumben ngeblog lagi. Entahlah, mungkin karena hari ini menurut gue hari yang aneh bagi gue, alhasil dengan (sama sekali) tidak terpaksa, gue post tentang kejadian hari ini yang bagi gue sangat absurd.

Biasanya setiap hari Minggu gue bangun jam setengah 9 pagi. Enggak, gue bangun jam segitu bukan buat ke gereja. Oh iya, selama gue di Solo gue belom pernah ke gereja (kecuali kalo acara gereja dari kampus). Kok gitu Le? Parah anak atheis. Enggak gitu, karena gue pernah ketiduran di gereja di daerah sini karena aransemennya yang membuat gue ngantuk, alhasil daripada gue memalukan keluarga gue dan keluarga masa depan gue, gue gak ke gereja.

Terus? Yaudah gue di rumah aja doa biasa, toh kalau gue rajin ke gereja enggak menjamin gue 100% masuk surga.

Udah ah jangan bahas agama lagi, nanti salah kaprah aja muncul pikiran aneh-aneh :))

Balik lagi ke setengah 9 pagi. Kenapa gue bangun jam segitu? Karena jam segitu ada acara yang sangat gue senangi, yaitu...


Bima Satria Garuda.


Kok bocah banget Le? Yaelah, yang gue seneng kan gak sama kayak lu. Setiap orang ada kesukaannya masing-masing. Terus kenapa pengen nonton Bima Satria Garuda? Karena ada mantan oshi yang bernama Stella Cornelia Winarto gue demen tokusatsu juga sih, jadi ya pengen liat aja Kamen Rider lokal itu kayak gimana sih, ternyata yah bagus juga sih bagi gue, serunya dapet, kocaknya dapet, walaupun gak stabil sih tapi seru.

Dan bagi gue, masa kecil gue jauh sangat menyenangkan sekali daripada masa kecil anak kecil jaman sekarang. Trust me :)

Oke balik lagi. Biasanya gue bangun jam setengah 9 pagi pakai alarm handphone gue. Tapi hari Minggu kali ini, alarm handphone gue gak berbunyi, padahal udah disetel. Alhasil gue bangun jam setengah 10 pagi.

Ketinggalan nonton Ci Stella Bima deh :(

Handphone gue yang baru emang aneh sih. Dari awal beli handphone, baru 3 hari beli, ngecharge gak mau full, mentok di 80%, direstart dulu baru mau 100%. Standby, paling didiemin 18 jam juga sisa 15%. Alarm suka gak bunyi (jadi kali ini ketiga kalinya alarm gue gak bunyi, dua kali sebelumnya membuat gue telat kuliah). Buat browsing juga suka ngehang. Sebenernya gue tau kelemahan handphone ini sejak sebelum beli sih, cuman karena saat itu masih pake duit bokap, dan bokap yang nyuruh gue beli handphone itu, alhasil mau gak mau ya terpaksa nurut.

Karena kelaknatan handphone tersebut, dengan bekal tabungan (yang rencananya buat) keluarga masa depan gue, alhasil gue habiskan 95%nya.

Sedih... Gila...
Crazy... Sad...

Yap, gue beli handphone baru. Yang lama? Masih ada, cuman gue gak pake aja. Ngapain pake handphone yang membuat gue gak bisa menonton Ci Stella :(.

Jadi kira-kira umur handphone gue (yang aneh) itu sekitar 3 bulan di tangan gue.

Kemudian gue membeli handphone baru, masih satu merek, tapi beda tipe, dan tipenya lebih tinggi sedikit daripada handphone gue sebelumnya. Kali ini semoga gue gak salah pilih.

Setelah gue membeli handphone itu, ternyata slot SIM Cardnya gak cocok, karena handphone tersebut kecil. Alhasil gue harus potong SIM Card ke customer care operator gue.

Dan disinilah keabsurdan gue terjadi...

Sesampainya di customer care, gue ketemu sama mbak-mbak customer carenya.

ANJIR CANTIK BANGET SUMPAH GAK BOONG.

Seriusan. Gak make up tebel, mukanya natural, cantik. Setelah sempet saling tatap-tatapan, gue baru sadar, ternyata mukanya mirip member JKT48.

AH ELAH LE BAHAS JEKATE LAGI. Bodo amat, postingan gue ini.

Kali ini muka mbaknya itu mirip member JKT48 bernama Sofia. Siapa dia? Kok gak terkenal. Dia member generasi ketiga, emang gak terkenal kok, tapi dia bikin temen-temen gue jadi demen sama dia loh.

Kira-kira muka Sofia itu kayak gini :


Serius, asli mirip 95%. Kali ini mata gue gak boong.

Jadi kira-kira mbak itu umurnya 20 tahun keatas, gak nyampe 30 tahun. Kita berdua ngobrol dengan canggung, entah kenapa. Mau buka handphone gue, gue kesusahan, dia mau bantuin, dia gak bisa juga, gue yang buka, gak bisa juga, dia yang buka, gak bisa juga...

Gitu aja terus sampe Mad Dog berantem lawan Chuck Norris.

Alhasil entah sampe keberapa kalinya, handphonenya kebuka juga. Kita saling tertawa gak jelas. Setelah dicek slotnya, dan SIM Cardnya dipotong, kemudian dimasukan ke handphone baru gue, dia gak bisa masukin. Alhasil gue yang masukin. Dia ketawa. Gue juga ketawa.

... Berasa absurd.

Setelah ketawa gak jelas itu, gue tanya harga servisnya berapa. Pertanyaan yang sebenernya bodoh sih. Cuman potong SIM Card aja kok ada harganya. Dia membalasnya "gratis", sambil tersenyum. Gue senyum juga. Alhasil gue bilang terima kasih, dia juga bilang terima kasih, dan gue senyum, dia juga senyum.

... Aneh.

Entah kenapa setelah kejadian itu, gue pulang ke rumah, dan kepikiran sama seseorang yang dulu gue pernah suka (alias: mantan gebetan). Dulu pertama kali ketemuan sama mantan gebetan gue, salting juga, senyum juga, absurd juga.

Yang jelas sih mbak customer care tadi bukan calon gebetan gue ya.

Cuman kejadiannya itu, bikin gue merenung akan masa-masa gue sama mantan gebetan gue saat gue masih di Bekasi, dimana saking akrabnya gue sama dia, disangka pacaran, padahal enggak. Iya sih gue juga gak bakal jadian sama dia, mulai dari beda pandangan, dan beda tingkat pemikiran juga.

Kok jadi galau mellow gini ya. Di pikiran gue banyak yang gue kangenin. Mulai dari rumah lama, lingkungan lama, temen lama, oshi lama, hingga mantan gebetan lama. Emang ada gebetan yang baru? Gak ada sih, susah cari cewek di jurusan mesin :(


Well, semoga mbak customer care tadi hidupnya sukses kedepannya dan hidupnya lancar aman tentram damai sejahtera, karena senyumannya bikin gue terhibur atas kekesalan gue gak bisa nonton Ci Stella Bima Satria Garuda.


Salam Salting

@leonardixb

Minggu, 01 Maret 2015

Sepercik Racauan Anak yang Susah Beradaptasi

AIEEEE.... Udah 2 bulan gak ngeblog. Rutinitas gue sebagai anak kuliah membuat waktu senggang gue buat ngeblog menjadi kosong. Bukan karena tugas kuliah sih, tapi karena gue kebanyakan main game online aja.

... Tumben Le main game online, udah pensi ngidol lu?

Astaga bahasannya idol lagi. Cek postingan gue yang terakhir deh.

Jadi kali ini mau posting tentang apa ya?

Apaan ya
Apaan y
Apaan
Apaa
Apa
Ap
A
Au
Auk
Auk g
Auk ga
Auk ga a
Auk ga ad
Auk ga ada
Auk ga ada i
Auk ga ada id
Auk ga ada ide

.... Gila Le alay banget. Gak alay sih, biar gue kekinian gitu kayak ngikut jaman.

Gue jadi lupa mau ngomongin apa.

Hmm rutinitas gue aja deh. Jadi di tempat kuliah gue ada 2 shift. Shift 1 kuliah jam 7 pagi - 3 sore. Kayak sekolah ya. Iya, kayak sekolah, gak kayak kuliah temen-temen gue di Jakarta atau Bandung. Temen-temen gue kuliah paling jam 7-10, ini lagi 7-3, kayak sekolah banget.

Shift 2? Jam 2 sore - 10 malem.

Gila kayak orang kerja aja. Emang begitu sih, ya mau diapain lagi, gapapa sih sekalian latian mental dan fisik kalo diajak capek malem-malem, apalagi nanti kalau udah malam per... *dibekep* *saya innocent*

Oke lupakan soal malam pertama tadi. Eh keceplosan. Yaudahlahya udah dewasa ini pikirannya jangan macem-macem aja.

Kalo kangen sama rumah asal yang letaknya di perbatasan ibu kota sih, kangen lah ya. Entah kenapa disini gue berasa kurang adaptasi, terutama penyebabnya kendala bahasa. Ya... di sini mereka lebih bisa bahasa Jawa daripada bahasa Indonesia. Aneh? Gak sih, tiap daerah emang beda-beda tentang dominan pembelajaran bahasanya. Mau gak mau ya gue terima, gue nanya bahasa indonesia, dijawab bahasa jawa. Gak ngerti yaudah, mau gimana lagi, gue gak ngerti bahasa jawa juga.

Tapi masih pengen banyak hal yang dilakukan di Jakarta, kayaknya ada yang kurang. Lebih tepatnya gak pernah kurang sih, karena kebanyakan kebahagiaan gue bersumber dari teman-teman gue disana. Di Solo kesepian dong? Enggak. Nanti akan ada waktunya dimana gue bisa mendapatkan kebahagiaan gue sendiri yang berasal dari temen-temen gue di sini, walaupun mungkin lebih susah karena kendala komunikasi.

Seandainya aja gue punya jurus rahasia teleport yang bisa bikin gue ke Jakarta dalam hitungan detik, mungkin kesepian gue gak bakal sesuram kayak sekarang.


Soal masalah pengendara disini sih, pasrah gue. Sampai saat ini gue udah hampir nabrak 3 motor, 4 sepeda, dan 3 pick up. Plus gue jatoh dari motor satu kali karena mobil ngerem mendadak akibat ada ibu-ibu bawa motor langsung belok tanpa lampu sen. Kira-kira rentang waktu dari posting terakhir gue cuman beda 2 bulan, tapi udah nambahnya lumayan. Pasrah dah gue. Gue gak tau tata cara aturan mendapatkan SIM disini bagaimana, kok bisa pengendara yang gak layak kayak gitu bawa kendaraan di jalan raya. Pengen gue klakson, kasian. Gak diklakson, seenaknya sendiri. Gak ngerti lagi.

Yah, sekali lagi, harus adaptasi. Tapi semoga keparahan mereka dalam berkendara tidak menular ke gue.

Oh iya, pertokoan. Jangan pernah mau nyari barang di hari Minggu. Entah kenapa di hari Minggu mayoritas toko pada tutup semua. Pernah keluarga gue sedang kehabisan air galon, nyari tukang galon keliling komplek. Total tukang galon di komplek perumahan ada 3, tapi 33nya tutup semua. Watdefak. Alhasil akhirnya tuker di supermarket yang jaraknya cukup jauh dari komplek. Gak cuman soal galon aja sih, sembako, makanan, alat elektronik, entah kenapa hari Minggu merupakan hari yang benar-benar harus dimanfaatkan bagi mereka. Mungkin mereka udah males cari duit kali ya. Tapi ya harus adaptasi deh, belajar (mau gak mau) menimbun barang.


Hmm gue bingung mau posting apalagi. Sebenernya masih ada beberapa ide lagi sih, tapi "gap"nya terlalu besar, takutnya malah jadi prasangka buruk. Sekian dulu aja deh.



Salam yang sedang Chikangen sama yang Dhikejauhan sana

@leonardixb

Senin, 29 Desember 2014

Hampir Nabrak Ibu-Ibu dan Nonton Konser

Gile, udah 3 bulan gue ga ngeblog. Maklum, anak kuliahan, kuliah di luar kota, banyak tugas, gak bisa cuti, kalo cuti urusannya panjang. Alhasil gue sudah menjalani kuliah gue selama 6 bulan di Solo.

Terus, tumben kok ngeblog? Tentu aja gue ngeblog karena ada kegiatan yang gue lakukan.

Sebelumnya gue pernah bilang di post ini, gue gak bakal ngidol lagi. Nah, berhubung gue dapet libur akhir tahun selama 12 hari (iya, 12 hari, enggak 14 hari alias seminggu, cuman 12 hari. Meh), gue akhirnya liburan...

... ke Jakarta ...

... bisa ngeblog ...

... dan nonton konser 3 tahun JKT48 ....

AH ELAH UJUNG-UJUNGNYA BAHAS GITUAN LAGI LE.

Namanya juga udah hampir 6 bulan gak ketemu, jadi penasaran perkembangannya gimana. Alhasil gue nonton konsernya 1 show.

Sebelumnya banyak temen-temen gue yang mau ikut, tapi entah kesambet apa, ujung-ujungnya gue jadi Alone Walker lagi. Yah, serah deh.

Well, konsernya bagus. Gue beruntung berada di show yang lagu-lagu yang gue suka ditampilin semua, dimana ada Renai Kinshi Jourei, Himawari, Aozora Kataomoi, Batu yang berputar (?) (maaf, gue bukan purist Tim K3, iya, K3, BUKAN K. K itu buat tim di AKB48 !! Jadi gue ga tau judulnya dalam bahasa Jepang). Ada juga lagu yang paling gue ga suka ditampilin, seperti Seifuku ga Jama wo Suru. Loh, kok gak suka? Gini, tema konsernya "Saya Masih Anak Kecil", sedangkan lagu tersebut liriknya seolah-olah ingin bercinta tapi gak bisa karena dia masih pake seragam. Oke, seragamnya itu anak kecil, tapi bercinta itu bukan kegiatan anak kecil kan? Makanya gue gak suka lagu itu, karena ga sesuai tema (walaupun misalkan gak sesuai tema juga gue gak suka lagunya, sangat gak suka). Kecuali kalo lagunya SDN48, dan temanya dewasa, nah itu baru l3h j9a u.

Chika, member trainee gen 3, juga masih chikawaii, bikin chikangen, pokoknya ARCHK deh.

Gue juga hampir telat beli tiket karena keasyikan ngobrol sama "ibu-ibu yang sedang menunggu". Yang diobrolin macem-macem sih, mulai dari lama ga keliatan, sampe ngebahas kuliah gue yang secara gak disengaja satu kampung sama salah satu ibu itu. Yah, udah gitu aja. Gue bingung mau ngomong apa, jadi yaudah, overall berjalan dengan lancar, dan gue gak sia-sia membuang 220ribu.

Segitu aja bahas tentang JKT48nya. Kali ini gue bahas ke inti dari postingan ini, tentang perasaan gue, sebagai anak yang-tinggal-di-perbatasan-Jakarta-dan-Jawa-Barat, yang menetap di Solo, kemudian balik lagi ke pinggiran Jakarta.

Mungkin udah pernah gue bahas di post sebelumnya, banyak budaya yang beda, terutama berlalu lintas. Sampai detik ini, di Jakarta gue baru hampir nabrak 1 truk, dimana gue di Jakarta baru punya motor dan memakainya selama 1 tahun lebih. Sedangkan selama 6 bulan gue tinggal di Solo, gue udah hampir nabrak 2 motor, dan 4 sepeda, dimana semua yang bawa adalah ibu-ibu. Gue gak ngerti apa gue jadi gak ahli mengendarai motor lagi, sampai hampir menabrak mereka, atau gue yang gak tau aturan berkendara di sini.

Ada 1 tragedi hampir menabrak tersebut yang paling gue inget, dan gue paling benci sama orang yang hampir gue tabrak itu. Saat gue di perempatan, gue mau jalan lurus dengan kecepatan +-50km/jam, tiba-tiba nongol ibu-ibu PNS bawa motor, padahal udah distop sama petugasnya. Gue ngerem hingga motor gue ngesot. Dia, bukannya jalan terus biar ga ketabrak, malah bengong dengan muka pasrah ngeliatin gue yang sedang bersama motor gue ngesot di jalan. Gue klakson, dia tetap ga bergerak sambil ngeliatin motor gue yang ngesot kayak kereta direm seperti di film spiderman 2. Untungnya, gue berhenti tepat 30 cm di depan motor ibu-ibu itu. Dia masih ngeliatin gue dengan muka menganga seolah-olah dia berada di tepi tebing antara hidup dan mati hanya karena ditabrak motor bebek kepunyaan anak remaja berumur 19 tahun yang saat itu mau beli bensin. Gue akhirnya belok melewati dia yang masih melamun di tengah jalan.

Well, gue gak ngerti lagi sumpah sama ibu itu. Kalau di Jakarta dan dia berhadapan dengan metromini, mungkin dia udah dicaci maki habis-habisan sampe nangis bahkan mau bunuh diri kali ya. Untung berhadapannya sama motor revo 110cc yang nyaris mogok.

Gue lebih suka berkendara di Jakarta daripada di Solo, terutama saat menghadapi ibu-ibu. Gue lebih memilih disalip ibu-ibu yang mau ke kiri padahal dia ambil jalur kanan di Jakarta, daripada ibu-ibu yang hanya bisa pasrah bengong di tengah jalan ngeliat masa depannya yang diambang batas hanya karena sebuah motor bebek yang hampir mogok.

Di Solo juga penjagaan polisinya super ketat. Saking ketatnya, saat lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, mereka tetep ENGGAK JALAN. Gak ngerti lagi. Beda sama Jakarta, dimana lampu hijau langsung ngegas. Mungkin mereka takut ditabrak, atau ditilang polisi karena tidak memberikan jeda saat lampu hijau menyala.

Oke, sekarang gue cukup emosi dengan keadaan lalu lintas itu.

...

Sekarang udah reda.

Setelah gue kembali ke rumah gue yang letaknya di perbatasan-Jakarta-dan-Jawa-Barat, gue merasakan keselnya sebagai fans far, dimana mau kemana-mana susah, ngajak temen pada ga mau, mau dikasih tiket gak jadi, dan hal-hal kampret lainnya. Kesel, iya. Untung dedek-dedek lutchu memberikan kejutan yang keren-keren.

Wait, kok bahas JKT48 lagi ya. Ga peduli, kayak ada yang baca aja.

Oh iya, tanggal 28 Desember ya, berarti tepat 1 tahun Stella keluar dari JKT48, dan tepat 1 tahun gue terakhir nangis ya.

Semoga hidup gue makin membaik, makin banyak orang-orang yang hidupnya membaik juga (?). Gue juga pengen liat Jessica Veranda bawain lagu Yuuwaku no Garter. Lagu apaan tuh? Cari deh di google :))


Salam Nyaris

@leonardixb

Minggu, 14 September 2014

Rindu Terpisah oleh Jarak

Hola. (salam ala idol lokalan)

Udah lama gak ngeblog lagi. Maklum, baru pindahan, ribet jadinya. Sebenarnya koneksi internetnya udah ada sejak 1 bulan yang lalu sih, cuma karena kesibukan yang padat, susah nyari waktu buat ngeblognya. Enggak, ini gak alesan, emang beneran sibuk, maklum udah makin dewasa.

Sampai saat ini, masih agak berat sih rasanya pindahan itu. Seenggaknya udah ada internet sih, jadi mulai terobati. Cuma kangen sama suasananya, sama temen-temen lama, apalagi kangen sama kakak-kakak dan dedek-dedek lutchu di lantai 4 sebuah pusat perbelanjaan di daerah Jakarta Pusat.

.... AH ELAH LE UJUNG-UJUNGNYA JEKETI LAGI.

Maaf, gue sebenernya ingin ngepost yang gak bahasa Jeketian, cuma gak tau kenapa ujung-ujungnya selalu kesitu.

Oh iya, sebelum ke luar kota gue pernah bilang ke beberapa temen-temen gue kalo gue ke luar kota. Responnya kebanyakan kayak begini balesnya:
Lu ke Solo Le? Yah, gak bisa ketemuan lagi dong?
Atau
Ke Solo Le? Wah gak bisa main bareng dong?
Atau
Yah Le, gak bisa traktiran lagi dong?

Atau yang ekstrim
Lah lu ke Solo Le? Makin kangen dong sama dek idol?

Untuk pertanyaan terakhir. Jujur, iya.

Gue jadi pengen nonton mereka lagi, apalagi semenjak tiba-tiba member favorite gue di gen 3, Chika, sering pake kata-kata "Chikangen". Itu ada sejarahnya yang agak..... gitu deh, ada kaitannya sama postingan ini  .___.

Dan yak, makin chikangen lah saya disini :(

Oke itu intermezzonya. Mari ke pembahasan inti.

Awal perkiraan gue kuliah di Solo, gue kira gue bisa lepas dari dunia idol group itu. Gue berpikir gue bisa tenang, bisa konsentrasi ngerjain tugas, bisa dapet nilai baik, dan bisa sukses.

Ternyata semua diluar dugaan gue

Menurut survey yang gue teliti. 90% temen-temen gue tau idol group yang namanya JKT48. Gila banyak banget Le. Terus 10%nya gak suka JKT48 dong? Enggak, 7%nya tau idol group yang namanya JKT48 dan  AKB48, 3% tau JKT48, AKB48, SKE48, SNH48, NMB48, HKT48, dan saudara-saudara yang lainnya.

Kesimpulan : tempat kuliah gue (belum tentu) banyak wotanya.  Loh kok belum tentu? Liat pernyataan di atas, 90% tau, bukan suka. berarti kurang dari 100% suka JKT48. Alias masih banyak juga sih ._.

Ya kesimpulan akhirnya tetep ada wotanya.

Jadi gimana dong Le? Gue malah jadi makin kangen sama dek idol, gak bisa tenang, mau ngerjain tugas malah mikirin hal yang aneh-aneh, nilai gak bagus-bagus amat, suksesnya gak tau juga.

Suram ._.

Tapi seenggaknya gue harus bisa memotivasi diri sendiri untuk bisa ngerjain tugas-tugas dengan baik dan nilai yang memuaskan. Harus bisa, Le.

Masalah kangen nanti aja dipuaskan akhir tahun kalo bisa ke Jakarta lagi, kalau liburnya panjang dan gak ada tugas yang tertunda. Pokoknya saya aitakatta sama dek idol ._.


Suasana di rumah baru gimana? Beda banget, apalagi kalau di jalan raya. Biasanya di Jakarta, lampu lalu lintas masih warna merah aja masih pada jalan. Di Solo beda. Lampu lalu lintas warna hijau, belum tentu pada jalan. Loh? Iya, mau lewat perempatan misalnya, kebanyakan nunggu kendaraan benar-benar sepi, baru jalan. Maksudnya biar aman kali ya, tapi gue sebagai orang yang kebiasaan bawa kendaraan di Jakarta, hal itu membuat gue agak mengganggu. Rasanya kesabaran gue diuji disini.

Apalagi soal masalah nyelip. Gue di Jakarta, gak cuman gue sih, pengendara motor yang di Jakarta dan sekitarnya juga, udah biasa yang namanya nyelip. Di sini, gue juga suka nyelip sih. Cuman saat gue nyelip, gak ada yang ngikutin di belakang gue. Alhasil, gue nyelip sendirian. Biasa aja sih sebenernya, cuman kalau misalnya di tengah jalan ada celah yang bisa diselipin, rata-rata pada gak ada yang mau nyelip. Mungkin mereka emang ingin jaga keselamatan sih, cuma gue sebagai orang yang kebiasaan bawa kendaraan di Jakarta, hal itu cukup menyebalkan. Yakali gue klakson. Alhasil kesabaran gue diuji lagi. Tapi emang biar selamat sih, dan mengurangi resiko kecelakaan, gapapa deh, harus dibiasakan.

Toko-toko disini juga waktunya gak sepanjang di sekitar rumah gue. Salah satunya toko pulsa misalnya, salah satu toko pulsa disini ada yang buka dari siang sampe sore. Alhasil kalo malem-malem tiba-tiba butuh pulsa, nunggu besok siang baru ada. Gue sih gak masalah, ada internet ini selow aja.

Internet provider di komplek gue juga gak sebanyak di rumah gue yang dulu. Disini internet cuma bisa pake sp**dy. F*stn*t, b*lt, atau yang lainnya gak bisa. Jadi...... ya mahal, dan kecepatannya buruk ._.

Tapi bersyukur aja sih udah ada internet, dan sekaligus wifi, walaupun kecepatannya amburadul dan harganya gak masuk akal sama kualitasnya :))

Masalah pergaulan ya. Rata-rata disini pada pake bahasa Jawa. Pas awal-awal, gue tanya temen gue pake bahasa Indonesia, dibalesnya pake bahasa Jawa. Ya... gimana ya..... Gue sih untungnya ngerti sedikit-sedikit tentang bahasa Jawa, cuma ya agak mikir juga gue kalo dia bales pake bahasa Jawa lalu diterjemahkan ke bahasa Indonesianya bagaimana. Tapi enggak masalah sih kalo sekarang, anak-anak sini ramah kok, dan mau ngejawab gue pake bahasa Indonesia, walaupun kadang pake bahasa Jawa juga sih.

Tempat nongkrong, jangan ditanya boss. 7eleven, lawson, dan sejenisnya, disini gak ada. Paling-paling ya indomaret atau alfamart. Paling mentok sih nongkrong ya di angkringan. Angkringan itu apaan? Angkringan adalah sebuah gerobag dorong yang menjual berbagai macam makanan dan minuman yang biasa terdapat di setiap pinggir ruas jalan di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Di Solo dikenal sebagai warung hik ("hidangan istimewa a la kampung") atau wedangan. Wih lengkap banget. Iyalah, gue copy paste dari wikipedia :p

Angkringan itu, gak buruk buat nongkrong, malah asik, lebih berasa kekerabatannya sama temen-temen. Gak tau kenapa seneng aja sih. Masalah makanan emang gak semewah 7eleven atau lawson, cuma kalau buat ngobrol becanda, asik lah, secara lebih akrab.


Jadi gini ya rasanya kalau punya hubungan semacam LDR alias Long Distance Relationship. Pengen ketemu, terpisah jarak. Solo-Jakarta itu jauh. Ingin bertemu, gak bisa juga. Untung gue gak pacaran dengan status LDR, bahkan gue gak punya pacar.

Tapi kangen sama kakak-kakak dan dedek-dedek lutchu yang suka jingkrak-jingkrakan di lantai 4 sebuah mall di bilangan Sudirman :(

Mungkin sampai saat ini kejadian yang gue alami gak seburuk yang gue pikirin. Ya semoga aja gue bisa sukses disini, dan rasa kangen ini bisa terlepas nanti saat libur kuliah (semoga ada dan lama).


Sekian.

Salam Kangen

@leonardixb